Ulasan Knightfall: Kisah Kesatria Templar dari History Channel Mengangkat Cerita dari Dan Brown

Ulasan Knightfall: Kisah Kesatria Templar dari History Channel Mengangkat Cerita dari Dan Brown

Dengan Vikings telah memulai musim kelimanya minggu lalu, dan Six siap untuk memulai musim kedua pada 2018, saluran televisi History meluncurkan serial drama orisinal ketiganya dengan kisah bernuansa pedang dan rantai pada masa abad pertengahan, Knightfall. Berpusat pada para Kesatria Templar setelah kekalahan telak di Acre, lokasi benteng terakhir mereka di Tanah Suci dan keberadaan Cawan Suci yang diperkirakan hilang, serial ini mengambil tempat di Paris lima belas tahun sesudahnya, dengan para kesatria secara sepintas mempertahankan keberadaan militer mereka, meskipada kenyataannya mereka telah lebih condong menjadi institusi keuangan, khususnya Raja Philip IV (Ed Stoppard), yang berhasrat untuk memperkuat kekuasaannya, khususnya dengan cara menikahkan putrinya, Putri Isabella (Sabrina Bartlett). Meskipun keberadaan Raja Philip, bersama dengan Ratu Joan dari Navarre (Olivia Ross), Isabella, dan bahkan Paus Bonifasius VIII (diperankan oleh Jim Carter dari Downton Abbey), khususnya pada awal, terasa seperti serial ini akan membuktikan keaslian History, pada akhirnya menjadi jelas bahwa Knightfall memiliki unsur fiktif yang cukup untuk membuat ceritanya terus bergulir dari musim ke musim dan untuk tetap membuat para penonton menebak apa saja yang akan terjadi selanjutnya.

Sisi dari serial tersebut berpusat pada Landry (Tom Cullen), seorang kesatria yang menebas citra karakter yang berprinsip tapi tidak terlalu bermoral seperti apa yang mungkin Anda perkirakan dari sebuah drama televisi kabel di 2017. Seorang biarawan pejuang yang setia kepada kelompoknya, Landry – atau, benar-benar, Cullen – terlihat terlalu tampan untuk hanya mengayunkan pedang dan berlarian dengan baju besi selama berjam-jam. Jadi, secara alamiah, ia berselingkuh dengan Ratu Joan. Meskipun permasalahan ini menambah intrik serialnya, seperti banyak hal lainnya di serial tersebut, namun ini tidak lantas membuat serialnya menawarkan sesuatu yang baru bagi para penonton, dan sepertinya hanya menambah sifat ceritanya yang dibuat-buat, yang juga nantinya akan terungkap.

Dimulai dari Pengepungan Acre yang disebutkan di atas, serial ini terlihat seperti hendak memperkenalkan para pemain utama dari Kesatria Templar, dengan Landry sebagai pembuka kemudian dilanjutkan dengan pengenalan karakter Gawain (Pádraic Delaney), yang mengubah haluan Landry dan kemudian menghabiskan lima belas tahun mengingatkan semua orang — khususnya Landry — tentang pengorbanannya yang gagah berani. Ini adalah rangkaian spektakuler yang mengagumkan bahkan di dunia ‘Pertarungan Para Bedebah’ yang kita jalani, namun kejatuhan Acre tidak terlalu dimaksudkan untuk menjadi dasar dari serial ini apabila dibandingkan dengan mengaitkan cerita Templar, dan cerita dari Knightfall, secara langsung terhadap perburuan untuk menemukan Cawan Suci yang sepertinya hilang.

Olivia Ross sebagai Ratu Joan dari Navarre di Knightfall.

Olivia Ross as Queen Joan of Navarre in Knightfall Knightfall Review: History’s Templar Knight Saga Takes a Page From Dan Brown

Hal semacam lisensi fiktif tersebut pada dasarnya mencampurkan sejarah dengan dongeng, menggerakkan plot Knightfall dalam musim pertamanya, dengan urusan-urusan para Kesatria Templar di Paris membuat mereka berubah secara cepat dari para pemodal menjadi karakter dalam novel Dan Brown setelah ayah pengganti sekaligus mentor Landry, Godfrey, diserang oleh para “penjahat”, sehingga menghasilkan penemuan berupa sebuah petunjuk yang menuju pada keberadaan di mana Cawan Suci diduga berada serta seluruh kemungkinan konspirasi terkait lokasinya. Secara bersamaan, plot serialnya juga semakin berkembang dengan pengacara licik Philip, William de Nogaret (Julian Ovenden), yang secara diam-diam mulai menanggapi beberapa pendirian negara serta melibatkan Paus dalam serangkaian konfrontasi a la Littlefinger vs. Varis yang sebenarnya bisa dibuat lebih menarik jika saja serialnya lebih ditekankan pada ancaman dari para Templar kepada para penguasa berkat jumlah tentaranya yang banyak serta sejumlah uang yang mereka miliki.

Patut dihargai bahwa Knightfall tidak seluruhnya mengabaikan detil-detil tersebut; hal-hal tersebut ditunjukkan di tayangan perdananya, namun serial tersebut hanya memperlihatkan dampak dari pengaruh para Kesatria Templar dan hal yang berpengaruh kepada kejatuhan kelompok tersebut dari luarnya saja. Malah, para penulis serialnya, yang dipimpin oleh Dominic Minghella, pencipta serial BBC Robin Hood, lebih tertarik dengan legenda dan sejarah samar-samar para Templar dengan Cawan Suci, di mana sebagian besar terkait dengan keberadaan kelompok tersebut dalam budaya populer serta ketertarikan dalam meyakinkan bahwa kelompok tersebut adalah organisasi rahasia yang memiliki terlalu banyak urusan dan keterkaitan.

P  draic Delaney as Gawain and Simon Merrells as Tancrede in Knightfall Knightfall Review: History’s Templar Knight Saga Takes a Page From Dan Brown

Penekanan pada pencarian Landry terhadap Cawan Suci memiliki efek dua sisi, di mana itu tidak saja hanya menjadikan peran para Templar dan keterikatan mereka terhadap agama sebagai latar belakang, tapi juga meningkatkan derajat kesulitan bagi cerita utamanya agar tetap terus menarik ditonton selama musimnya bergulir. Isu yang kedua tidaklah sepenuhnya buruk, di mana hasilnya adalah alur cerita Knightfall yang mengesankan pada beberapa episode pertama yang ditayangkan khusus bagi para kritikus. Penonton tidak akan dibuat bosan dengan pencarian Cawan Suci oleh Landry dan serial tersebut secara energetik meningkatkan karakter licik Nogaret, bahkan ketika keduanya mengancam akan masuk ke wilayah yang lebih aneh.

Secara keseluruhan, Knightfall sepertinya akan menjadi penerus yang baik untuk Vikings, namun untuk alasan yang kebanyakan dangkal. Dengan drama panjang dari Michael Hirst yang telah berhasil mencocokkan rangkaian-rangkaian aksi adu jotos dengan muslihat-muslihat politik dan pencarian-pencarian penuh halusinasi, semua sembari mencoba untuk tetap berlabuh pada bagian-bagian drama penting dalam sejarah, secara kontras, cerita Templar ini menjadi kurang bertambat pada nama saluran televisi yang menayangkannya, dengan alur ceritanya yang memilih untuk lebih menggali soal pencarian Cawan Suci. Meski demikian, seiring dengan pencarian para saluran dan layanan streaming terhadap Game of Thrones selanjutnya demi semakin memuaskan para penonton, sulit untuk membayangkan para penonton yang tertarik kepada cerita-cerita kesatria (agak) berbudi luhur dengan baju besi akan kehilangan ketertarikan terhadap gaya penceritaan serialnya yang menjadi seperti Da Vinci Code, karena serial ini memastikan bahwa pertarungan antarpedang akan terjadi per jamnya.

Knightfall tayang setiap Rabu pukul 20.55 WIB di History.