YouTube Kehilangan Komunitasnya Sendiri

YouTube Kehilangan Komunitasnya Sendiri

YouTube memperbarui kebijakan monetisasi dengan cara yang membuat para pelaku kreatif marah dan khawatir terhadap masa depan platform tersebut. Perubahan umum terhadap kebijakan tersebut membuat kesempatan monetisasi untuk para pelaku kreatif yang lebih sederhana (bukan nama besar) terpotong, meskipun mereka membentuk jumlah persentase besar dalam komunitas YouTube.

Kebijakan baru yang diberlakukan oleh YouTube menuntut para pengguna yang ingin akunnya dimonetisasi untuk mengakumulasi 4.000 jam penayangan selama setahun, sekaligus jumlah subscriber akun mereka sebesar minimal 1.000 agar bisa mengajukan aplikasi ke YouTube Partner Program. Partner Program memberikan kesempatan bagi para pengguna untuk bisa monetisasi dengan cara memasang iklan-iklan di konten mereka, sekaligus memperoleh subscriber melalui YouTube Red yang merupakan layanan langganan eksklusif terbaru dari YouTube. Ini menyingkirkan banyak pelaku kreatif bidang kecil karena banyak dari mereka yang secara signifikan berada di bawah angka tersebut.

Tentu saja, para pelaku kreatif yang lebih sederhana tersebut tidak senang dengan perubahan peraturan yang sekarang. Sementara kebijakan baru tersebut memberikan mereka kesempatan selama 30 hari untuk mengakumulasi 4.000 jam penayangan dan 1.000 subscriber, angka-angka tersebut sangat sulit diraih dalam jangka waktu yang sangat pendek, khususnya jika jumlah produksi video Anda cukup sedikit. Banyak yang berharap para selebriti besar YouTube akan bersuara melawan kebijakan baru YouTube, namun perubahan ini tidak lantas menjadikan ini sebuah peristiwa yang mengejutkan. Baru-baru ini, telah mengikuti arah ini dengan fokus utama terhadap bintang-bintang besar dan selebriti-selebriti serta merek-merek non YouTube. Secara keseluruhan, hal ini menimbulkan kekecewaan dalam komunitas YouTube, khususnya dalam hal bagaimana para pelaku kreatif yang lebih sederhana dirugikan.

Saya sedang sibuk menerjemahkan perubahan #YouTubePartnerProgram terbaru. Sama-sama.

Lebih dari itu, YouTube menghadapi banyak kontroversi akhir-akhir ini dengan para bintang besar membuat kesalahan-kesalahan signifikan dalam konten video mereka. Pada awal tahun ini, salah satu YouTuber besar, PewDiePie, menggunakan beberapa gambar Nazi dan candaan-candaan anti Yahudi dalam salah satu videonya yang kemudian diangkat oleh The Wall Street Journal, menjadikan itu sebagai sebuah cerita besar. Meskipun PewDiePie bersikeras bahwa komentar-komentar tersebut diambil di luar konteks oleh The Journal, banyak orang yang menyuarakan penangguhan akunnya.

Yang lebih baru lagi, Logan Paul, seorang YouTuber terkenal karena konten-konten konyolnya yang ditujukan bagi kaum Millennial, mengunggah sebuah video yang menunjukkan jenazah. Kemudian, diketahui bahwa jenazah yang dipertanyakan tersebut adalah orang yang bunuh diri, yang membuat semakin banyak orang menyuarakan agar YouTube memutuskan Paul sepenuhnya. Tidak ada yang berubah dalam situasi-situasi ini, dan bisa dibilang bahwa setiap pengguna menerima lebih dari hanya hukuman biasa. Lebih jauh dari soal sikap yang “diperbolehkan” oleh para selebriti YouTube tersebut, perubahan kebijakan baru ini adalah sengatan tajam bagi para pelaku kreatif yang lebih sederhana dan komunitas plat

“Just to be clear, I didn’t earn anything off YouTube, not a single dollar until I hit 25k subs. If all you’re earning is $1 then YouTube probably is losing more money just to pay that to you. As much as I typically hate their business practice, this one makes sense to me.”

Jadi, apa selanjutnya? Belum ada. Banyak bintang YouTube besar yang senang dengan kebijakan baru ini; bahkan di Twitter PewDiePie menuliskan bahwa kebijakan baru ini adalah sebuah praktik bisnis yang baik, “Untuk memperjelas saja, saya tidak menerima apapun dari YouTube, tidak sedolar pun sampai saya memiliki 25 ribu subscriber. Jika apa yang kamu terima adalah satu dolar maka YouTube kemungkinan besar merugi lebih besar hanya supaya bisa membayar kamu uang itu. Sebesar-besarnya saya secara khusus membenci praktik bisnis mereka, yang ini masuk akal bagi saya.” Sampai ada platform baru yang muncul, banyak pengguna yang akan tetap menggunakan YouTube untuk membuat video tanpa monetisasi, atau menyerah sepenuhnya. Namun, jika tidak ada lagi, perubahan-perubahan baru ini seharusnya menghasilkan sebuah penyelesaian yang kukuh demi menciptakan sesuatu yang berbeda serta menjadi pelopor akan adanya platform-platform baru.

Sumber: Polygon